Seni / Budaya Kabupaten Bireuen

Seumapa/ Seni Tutur

Seni tutur Seumapa ini sangat penting dalam kehidupan masyarakat Aceh, Menurut riwayat seni tutur Seumapa dalam bahasa Aceh sudah lahir dan berkembang dalam kehidupan masyarakat Aceh Khususnya di Bireuen saat berlangsungnya perkawinan puteri Raja Jeumpa Tamsir Dewi dengan putera Said Ali Al Mukhtadari dari  Peureulak pada tahun 1631 Masehi. Sejak zaman doeloe dalam adat pesta perkawinan Aceh, saat acara Intat Linto dan Preh Dara Baro, begitu tiba di halaman rumah Dara Baro  sebelum bersanding di pelaminan, diawali dengan perang Seni Tutur Seumapa, antara Seumapa rombongan Linto Baro dengan pihak Dara Baro.

Pakaian Adat Aceh

Baje ( Pakaian ) Aceh merupakan busana tradisional yang dilengkapi dengan aksesoris. Aksesoris untuk perempuan adalah Baju berwarna merah, sanggul tegak di tengah kepala yang di hiasi dengan Colok o'ek (tusuk Konde)/mahkota, memakai selendang dari kain tenun songket, celana panjang berwarna hitam yang di atasnya dililit sarung songket merah sebatas lutut . Aksesoris untuk laki-laki adalah baju khas aceh berwarna hitam memaki Topi Meuketop yang menghias kepala, celana panjang warna hitam yang di atasnya dililit kain songket warna merah yang pada pinggang terselip sebilah rencong.

Rumah Adat

Rumah Aceh adalah rumah adat Aceh yang khas dengan bentuk ukiran ornanien Aceh. Rumah Adat antar satu Kabupaten dengan Kabupaten lainnya dalam Provinsi NAD secara kasat mata sama, tetapi bila diteliliti dari seni ukiran yang menghiasi rumah terdapat perbedaan yang nyata.

Karena menyimpan makna sejarah, rumah adat ini menjadi salah satu objek wisata yang ramai di kunjungi wisatawan.

Tugu Batee Krueng

Bate Krueng adalah nama salah satu batalyon TII dibawah pimpinan Abdul Hamid atau yang lebih dikenal pada,saat itu (Ayah Hamid). Batalyon ini pada masa itu bermarkas di daerah Juli dengan wilayah penguasaan lingkup kewedanaan Bireuen. Dengan bersatunya TII dalam NKRI yang penuh martabat untuk mengenang namanya oleh Pemerintah Kabupaten Bireuen di lambangkan dengan sebuah batu besar yang diambil dari pedalaman Juli dan disandingkan dengan tugu Bungong Jeumpa tepatnya di alun-alun kota Bireuen atau depan Meuligoe Bupati Bireuen.

Tugu Bungong Jeumpa

Tugu ini merupkan titik sentral perjuangan masyarakat kabupaten Bireuen dalam mengusir penjajah dari bumi Serambi Mekkah. Tugu ini sejak berdiri telah mengalami renovasi untuk penyesuaian dengan kondisi bangunan pertokoan. Tugu ini berdiri megah di areal alun-alun Kota Bireuen tepatnya di depan Meuligoe -Bireuen


..